Menikah muda?


Nikah muda??

Saya menikah di usia baru menginjak 23 tahun. Jadi dulu pas mau wisuda ada seorang pangeran yang datang ngajak nikah, Kakak kelas waktu SMA beda 5 tahun, cuma sekedar kenal aja, anehnya dia kenal betul dengan saya dan saya ga terlalu kenal dengan dia, saya cuma tau namanya saja dan pekerjaanya, hahaaa..akhirnya sebelum memutuskan ta’aruf saya berdoa dan solat istikharah, keputusannya lanjut. Prosesnya begitu lancar, dia melamar, 6 bulan kemudian menikah, tanpa pacaran.

Keinginan menikah memang diusia muda memang sudah ada, tapi ngga ngebet-ngebet banget sih. Alasan mau menikah usia muda karena setelah lulus kuliah saya tidak mau bekerja yang terikat waktu saya mau berbisnis saja, kebetulan sudah ada bisnis yang sedang saya bangun, belum besar sihh, tapi yang jelas kapanpun waktu menikah itu tiba saya siap-siap saja, jadi tidak ada targetan dalam karir harus kerja di perusahaan mana dulu baru menikah, masalah rizki saya serahkan ke Allah dan biarkan suami yang banyak berperan, saya hanya membantu, dan dengan berwirausaha saya masih bisa membagi banyak waktu untuk keluarga. Selama proses single saya digojlok sama Bunda untuk menjadi ibu rumah tangga, jadi sudah bisa lah walaupun masih sedikit-sedikit. Alhamdulillah ketemu suami yang sesuai kriteria, meskipun pendidikannya tidak setara dengan saya, tapi ternyata setelah 2 tahun hidup bersama suami, dia itu orang yang cerdas, wawasan sejarahnya bagus, dan selalu punya solusi yang tidak terpikirkan, bisa menyederhanakan masalah. Jadi pendidikan tidak selalu menjamin yaa.. Emang sedikit jadi masalah sih bagi keluarga karena keluarga saya itu memandang sekali pendidikan seseorang. Kalau saya sederhana aja, bukan seberapa tinggi pendidikannya tapi seberapa banyak hasil yang dia berikan dari apa yang dia punya, percuma kalo pendidikan selangit tapi ga ngehasilin apa-apa.

Oke, lanjut ke proses pernikahan, akad, resepsi semua berjalan lancar, meskipun ada saja kekurangan tapi yang penting hal-hal wajib secara agama terlaksana sempurna. Setelah dipikir-pikir hal yang terpenting dari menikah adalah akad alias ijab qabulnya, masalah resepsi itu sunnah, malah kebanyakan orang yang lebih ribet masalah resepsi, menghamburkan banyak uang disana, lebih baik uangnya digunakan untuk nafkah/bekal keluarga baru. Memang siiihh “gengsi” jadi taruhan, terus so what? mending syukuran saat selesai akad, undang tetangga, sodara, dan teman dekat, yang jelas kita sudah mengumumkan pernikahan dan bisa di publish di sosmed biar lebih tersebar, Ini jadi pembelajaran buat saya kelak. Heheee. Tapi tidak salah juga kok mengadakan resepsi besar selama tidak memaksakan.

Menikah sudah sahh…saatnya memulai babak baru dalam hidup, awal menikah itu yang saya rasakan bahagia sudah pasti, canggung, malu-malu, hahaaa…soalnya saya tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki. Menjalani hari-hari bersama, saya diajak kesana kemari sama suami, mengenal kegiatannya, rekan kerjanya, sekalian pamer sekarang sudah punya bidadari, hahahiiiihi. Honey moon ke Bali gagal, karena dicancel dari pihak travel, hiiikss..hikss.. jadi pelarian ke Ancol, yaa better laah, hehee..

Mengenai hamil, saya kosong 3 bulan, saya sih enjoy aja, sambil kenalan sama suami lebih dekat, alias pacaran dulu. Waktu 3 bulan sudah cukuplah untuk bersenang-senang. Menurut saya sih kenalan selama pacaran berbeda dengan mengenal setelah menikah, coba deh cek, mungkin kita mengaku sudah mengenal sang pacar, tapi ketika menjadi pacar itu berbeda kedudukannya ketika sudah menjadi suami/istri, otomatis pelakuannya berbeda. Disinilah kita akan menilai kapasitas dan sifat asli pasangan, sampai hal-hal detil pasangn kita. Jadi ga usah pacaran lama-lama kalau sudah punya pekerjaan/penghasilan. Oia dalam pernikahan bukan ngomongin masalah materi, tapi mental, mungkin kamu siap menjadi istri/suami, tapi belum tentu siap menjadi ibu+istri atau ayah+suami. Karena kebanyakan generasi sekarang adalah generasi terbalik, yaitu kematangan biologisnya lebih cepat dari kematangan mentalnya. Kalau jaman dulu,apalagi jaman Rasulullah dan para sahabat, kematangan mental mereka lebih dulu cepat daripada ketangan biologis, berapa banyak yang sudah menjadi penglima perang diusia kurang dari 15-20 tahun. Coba bandingkan dengan anak zaman sekarang usia 15 tahun masih anak-anak banget kelakuannya, tapi secara fisik udah kayak usia 20tahun keatas, hadeuuh. Kembali lagi kecerita awal, menjadi ibu/ayah itu tidak semudah yang dibayangkan, apalagi jika tidak punya mental, kesabaran, dan kemauan untuk belajar dan terus belajar.

Tapi aku masih muda, penghasilan juga ga gede-gede banget. Hal itu urusan Allah yang menjamin, dan urusan kamu sebagai suami untuk mencarinya, dan urusan suami+istri untuk mengaturnya. Ibaratnya suami sudah ada jatah rezeki 1 dari Allah, terus datang istri, istri juga sydah ada jatah rezeki 1 dari Allah, kalau ada anak, anak juga membawa rezekinya 1 dari Allah. Jadi sebenernya tidak mengurangi malah bertambah, ya kan? tinggal kita yang jemput rezekinya. Kalau masih ada kekurangan berarti kita belum jemput semua rezekinya, entah malas atau karena jalan yang kurang tepat. Tapi jangan nekad juga, belum punya penghasilan sudah nekat nikah, penghasilannya memang tidak harus besar tapi cukup, banyak cinta buta yang padahal sang kekasih belum punya penghasilan yang jelas udah mau nikah aja, hidup ini realita Siss…jangan sampe iri sama rumput tetangga yang lebih hijau menjadi penyebab keretakan rumah tangga, banyak kebutuhan yang tidak tercukupi, timbul masalah ini itu. Bicara masalah cukup itu bagaimana kita mengatur, menyukuri dan menahan diri. Ada kok yang penghasilansuami+istri 9 juta/bulan tapi untuk mengontrak rumah saja tidak sanggup. Sebenarnya kalau bisa menahan diri dari pemenuhan keiinginan yang amsih bisa ditunda, ngga urgent2 banget, bisa kok hidup 9 juta/bulan berdua.

Naahh..untuk cerita mengenai anak ada lagi pembahasannya mungkin disesi selanjutnya.

2 pemikiran pada “Menikah muda?

    • Kl sdh ada calonnya dan penghasilan yg kira2 ckp ga perlu nunggu lulus. Malah bnyk tmn2 sy yg menikah saat kuliah,pdhl perempuan yg kerjaaanya bnyak.
      Drpd terjebak sex bebas/dosa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s