Pilih Manhaji, Syar’i, atau Islami?


Wajib di baca untuk aktivis dakwah🙂

Oleh : Dwi Purnawan)**
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Ketika saat ini, saat dimana daun – daun dakwah sedang bersemi, menumbuhkan bunga – bunga kesemangatan dari para pengusungnya, hingga berharap munculnya buah – buah dari aktivitas menyeru ini, maka disana

butuh kekuatan yang harus dimiliki dari para pengusung – pengusungnya, baik kekuatan secara pemahaman dakwah, kekuatan secara jasadiyah, fikriyah, maupun ruhiyah. Dan itu sudah menjadi sebuah hal yang mutlak yang harus dimilki para aktivis dakwah. Pemahaman dalam dakwah, mungkin sebuah hal utama yang harus dimiliki oleh para aktivis dakwah kampus. Sudah berapa lamakah kita masuk dalam tarbiyah? Seberapa tingkat kepepemahaman kita tentang makna dakwah? Maka itu merupakan pertanyaan – pertanyaan yang harus selalu kita tanyakan dalam diri kita masing – masing untuk mengukur kepemahaman kita tentang dakwah.
Dewasa ini, dunia dakwah kita sudah melewati mihwar – mihwar (tahapan) yang semakin tinggi. Dari mihwar yang terendah sampai saat ini, dalam dunia dakwah kita, pasti akan muncul qodhoya – qodhoya, baik dari kader dakwah itu sendiri ataupun bahkan berlanjut ke jama’ah ini, sehingga perlu adanya sebuah pembenahan tentang pemahaman kita dalam dakwah. Dan yang kemudian menjadi salah satu permasalahan kecil dalam dakwah ini yang bisa berakibat besar adalah masalah dari para pengusungnya, yaitu tentang pola interaksi ikhwan dan akhwat para pengusung dakwah.
Seperti kita ketahui bersama, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka itu berdampak pada perubahan pola fikir manusia cenderung untuk mengikuti arus modernisasi zaman. Pun demikian dengan dunia dakwah kita. Kadang, ataupun sering kita jumpai bersama, pola – pola yang dilakukan untuk melakukan aktivitas dakwah yang kita lakukan melenceng dari kaidah – kaidah kesyar’ian, kaidah – kaidah yang selama ini telah menjadi sebuah aturan mengikat dalam jama’ah kita. Salah satu yang sering terjadi adalah pola interaksi ikhwan dan akhwat dalam aktivitas dakwah. Dimana kita bisa melihat dari hal kecil yaitu perasaan seorang al ukh kepada al akh, maka akan timbul interaksi – interaksi yang tidak sehat (VMJ) sehingga itu akan berdampak negatif terhadap kondusivitas dakwah yang kita lakukan, dan bahkan tak jarang, karena kasus ini, para aktivis – aktivis dakwah memilih mengundurkan diri dari dunia dakwah. Naudzubillah.
Maka berangkat dari kasus kecil yang berdampak besar tersebut, perlu adanya sebuah pembenahan dan pelurusan kembali pemahaman kita tentang interaksi dalam jamaah. Bagaimanapun juga modernisasi zaman yang terjadi wajib untuk kemudian kita ikuti, tetapi hal – hal yang itu kemudian sudah mutlak wajib kita taati dalam jamaah dakwah ini, harus menjadi pegangan kita untuk berdakwah, bukan kemudian kita justru mengabaikan hal syar’i karena dengan beranggapan “itukan dakwah jadul”, kemudian juga “ mihwarnya kan udah beda ustadz”. Maka perkataan – perkataan semacam inilah akan mencirikan tentang rendahnya pemahaman kita terhadap dakwah.

Disisi lain, fenomena yang terjadi di kalangan aktivis dkwah kampus, yang menginjak masa – masa ‘menikah’, mulai dilanda kepanikan, siapa jodoane, dsb, sehingga dari hal seperti inilah yang akhirnya menimbulkan fenomena VMJ, mulai mencari incaran, dsb.
1.2    Rumusan Masalah
Judul makalah “Pola interaksi ikhwan dan akhwat dan menikah dalam perspektif jama’ah” yang dibuat ini berangkat dari sebuah latar belakang tentang pemahaman dakwah kita. Bahwasanya sudah menjadi keniscayaan bahwa dalam dakwah ini diusung oleh para ikhwan dan akhwatifillah. Maka perlu adanya sebuah pemahaman kita tentang pola interaksi dalam jama’ah dan menikah dalam perspekti jama’ah. Maka berangkat dari latar belakang diatas, dapat diperoleh beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana pola interaksi ikhwan – akhwat dalam era dakwah saat ini?
2.    Bagaimana seharusnya pola interaksi ikhwan – akhwat dilakukan ?
3.    Apa perspektif menikah dalam jamaah?
4.    Apa fungsi dan manfaat menikah dalam jamaah?

1.3    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan memahami pola interaksi antara ikhwan dan akhwat serta bagaimana konsep, fungsi, manfaat menikah menurut jamaah dakwah.

PEMBAHASAN
2.1 Interaksi
Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang berbeda. Interaksi adalah hal yang sangat krusial dan sering dilakukan oleh kita semua. Namun, sayangnya seringkali muncul banyak permasalahan di lapangan mengenai interaksi ini. Dan jika ditilik lebih lanjut sebetulnya permasalahan sering kali terjadi karena komunikasi yang tidak baik, dalam artian bahwa pola – pola interaksi dan komunikasi yang dilakukan tidak sesuai dengan kaidah – kaidah syar’i dalam jamaah kita, sehingga bisa jadi, interaksi dan komunikasi ini yang bisa membuat suasana sangat kaku sampai arus informasi tidak bisa berjalan baik. Atau malah terlalu ‘cair’ sampai-sampai dikalangan aktivis dakwah sering muncul istilah Virus Merah Jambu (VMJ).
Dari makna interaksi tersebut, maka sudah dapat dipastikan akan ada sebuah fenomena mengejutkan dari dua hubungan tersebut, begitu juga dalam interaksi berjamaah ikhwan dan akhwat, akan ada efek yang timbul dari hasil interaksi ketika obyek yang satu terlalu sering mempengaruhi yang lain. Salah satu efeknya adalah timbulnya perasaan suka antara al akh dan al ukh dikarenakan seringnya berinteraksi, sehingga seperti yang sudah dijelaskan dalam bab I, masalah kecil ini akan berakibat terhadap tidak kondusifnya dakwah yang kita lakukan.

2.2 Pola interaksi dan komunikasi ikhwan dan akhwat
Setelah mengetahui pemaknaan tentang interaksi, maka dalam poin selanjutnya pada  bab pembahasan ini, akan ada beberapa hal yang akan dibahas, mengenai hal-hal terkait komunikasi interaksi ikhwan dan akhwat, kendala dalam komunikasi interaksi ikhwan dan akhwat dan solusi dalam berkomunikasi ikhwan dan akhwat.
2.2.1 Pola Komunikasi
Pada dasarnya, komunikasi ikhwan dan akhwat bukanlah sulit, tetapi juga bukan berarti menggampangkan. Ada beberapa hal yang menjadi aturan tidak tertulis untuk komunikasi ini:
1.    Dilakukan sesegera mungkin (tidak setelah berjalan 3 minggu baru disampaikan kalau ada kendala atau masalah yang ada, bisa-bisa masalah sebesar kacang hijau sudah jadi sebesar buah durian)
2.    Dilakukan secara terbuka (hal-hal yang memang perlu disampaikan sebaiknya disampaikan tapi kalau tidak perlu perlu ya tidak harus disampaikan, proporsional dan profesional saja)
3.    Dilakukan secara dua arah. Bukan perintah dari satu pihak ke pihak lainnya, sebaiknya keputusan yang dikeluarkan (konteksnya ini adalah dalam organisasi) merupakan hasil diskusi dari dua pihak ikhwan dan akhwat
4.    Pembicaraan adalah hal-hal yang terkait dengan amanah saja. Hal-hal yang sifatnya pribadi sebaiknya diminimalisir. Hal-hal yang sifatnya pribadi boleh disampaikan dengan catatan terkait dengan amanah yang dilakukan bersama akhwat yang diajak berkomunikasi.

Dibawah ini merupakan salah satu contoh kecil dari pola komunikasi ikhwan akhwat yang dapat kita simpulkan mana yang baik dan yang tidak melalui pesan SMS.
Versi 1
Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? PPLnya udah selese blm? J
Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do’a akhie juga, hehehe, antum dah selese blm PPLnya, tetep mohon doanya yah agar PPLnya lancar mpe selese!!
Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira kapa yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?
Akhwat : hmhmhm… kapan yah? akhie bisanya kapan, kalo ana mungkin besok siang dan sore bisa
Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di Wafa
Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum
Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, hamasah !! wassalamu’alaikum
Akhwat : wa’alaikum salam
Versi 2
Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa ? untuk bahas acara
Akhwat : afwan, kebetulan ada agenda tarbawi, gimana kalo besok siang aja?
Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di Mushola FIK, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum
Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi 1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit “lebai” (baca “ berlebihan), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efisien dan “secukupnya”.
Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan atau akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia sia, semua membahas tentang agenda dakwah yang dilakukan.
Selain itu perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan akhwat untuk bekerja bersama pada waktu dan tempat yang sama. Sebutlah untuk pekerjaan mengepak sembako untuk baksos agenda bidang Soskemas LDK, maka kegiatan harus dilakukan dengan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama sama melakukan sebuah aktifitas, contohnya lagi ikhwan dan akhwat bersama sama menimbang gula, ikhwan memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik. Jangan sampai hal seperti ini terjadi, karena proses ini memungkinkan adanya kesempatan untuk khilaf. Kita tidak akan pernah mengetahui isi dari pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal hal yang bisa merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos, bisa saja menjadi ikhwan mengerjakan di bagian pengepakkan beras dan gula, akhwat mengerjakan pengepakkan susu dan minyak.
2.2.2 Kendala dalam interaksi dan komunikasi
1.    Perbedaan ‘bahasa’ antara ikhwan dan akhwat. Akhwat cenderung bicara dengan gaya bahasa tidak langsung. Sehingga menjadi tidak klop dengan ikhwannya. Akhwat itu biasanya pakai cara implisit. Ikhwan itu cenderung eksplisit. Istilahnya, maksud hati menyindir tapi yang disindir yang ngerasa tersindir.
2.    Akhwat tidak berani menyampaikan jika ada yang tidak sesuai menurutnya. Ini masalah intern akhwat, yaitu adalah jika mau menyampaikan sesuatu, pertimbangannya banyak sekali. Merasa tidak punya hak, khawatir yang diajak bicara tersinggung, dll. Bahkan ada kasus akhwat yang keluar dari amanah yang beliau pegang hanya karena ‘partner’ nya lambat merespon.
3.    Ikhwan suka menggampangkan hal-hal yang disampaikan akhwat. Padahal, Akhwat sudah berpikir puluhan kali sebelum bilang ke ikhwan.
2.2.3 Cara Penyelesaian
1.    Sadari kalau kita memang beda. masing-masing jender coba untuk memahami. Kalau ikhwannya memang tipe “eksplisit” ya sampaikan saja secara eksplisit. Walalupun sulit ya tetap dicoba. Daripada komunikasi jadi tidak lancar.
2.    Kalau lama sekali  setelah bertanya tidak juga direspon.. diamkan saja dulu sampai beliau membalas.. Hushnuzhan kalau partner sebenarnya juga sedang mencari jawabannya. Jadi, coba cari kerjaan yang bisa dikerjakan terlebih dahulu.. Tapi kalau memang mendesak sekali, ya sekali2 perlu juga ditanya terus2an..
3.    Akhwat tidak berani bilang. Pengaruh terbesar adalah dari internal akhwat itu sendiri dengan dibantu dengan lingkungan sekitar. Sehingga, sebaiknya ada iklim agar komunikasi berjalan baik sehingga bisa membuat yang ingin memberikan suaranya menjadi lebih nyaman
4.    Jika memberika usulan sebaiknya berikan data yang mayoritasnya menggunakan logika. Upayakan memang bisa rasional masukan – masukan yang diberikan. Jangan hanya berdasarkan perasaan saja..Dan, kata siapa akhwat itu berpikir hanya dengan perasaan? Akhwat itu berpikir dengan logika tapi pertimbangan utamanya berupa naluri.
2.3 Menikah dalam perspektif jama’ah
Dakwah memang menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Sesungguhnya misi utama Rasulullah SAW adalah berdakwah, yakni mengajak semua manusia kepada jalan yang benar. Berkat dakwah yang terus dilancarkkan tanpa henti, Islam bisa tersebar ke seluruh dunia, dipeluk, dipahami dan diamalkan oleh manusia dari berbagai suku dan bangsa. Salah satu inti ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, dan menjadi ciri seorang muslim adalah kepe-duliaannya terhadap dakwah. Dakwah juga merupakan wujud kasih sayang dan kepedulian seorang muslim terhadap muslim lainnya, bahkan sesama manusia. Sementara menikah adalah menjalankan sunnah Nabi, sesuai dengan fitrah manusia. Hikmah yang dapat diambil jika sunnah Nabi ini dijalankan adalah munculnya ketentraman jiwa. Dengan pernikahan akan tumbuhlah kecintaan, kasih sayang, dan kesatuan antara pasangan suami isteri. Dengan pernikahan, keturunan umat manusia akan tetap berlangsung semakin banyak dan berke-sinambungan. Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya. Menikah dan da’wah adalah dua sinergi yang saling mendukung. Dalam dunia da’wah, menikah adalah menggabungkan dua buah energi untuk saling bersinergi sehingga akan menghasilkan sebuah energi yang lebih dasyat lagi.
Jadi jika ada yg berpendapat bahwa setelah menikah tidak bisa mengoptimalkan produktivitas dakwah, atau merasa banyak hal yang belum dilakukan utk da’wah sehingga menikah adalah nomor sekian, atau juga merasa kontribusi da’wahnya masih terlalu kecil sehingga merasa jauh dari kualifikasi pemuda yang di gambarkan sebagai jundi dakwah, atau juga merasa malu jika berbicara penikahan diusia-usia muda kalau mau meneladani pemuda-pemuda seperti Usamah ibn Zaid yang menjadi panglima besar di usia 18 tahun, Mush’ab Umair yang di usia 20 tahun menjadi duta untuk membuka dakwah di Madinah dan juga keberanian dan kecerdasan Ali Bin Abi Thalib yg melegenda. pendapat itu adalah keliru. Dalam Islam, kecuali dengan pacaran, ada tiga jenis pernikahan, yaitu Islami, Syar’i, dan Manhaji. Pernikahan Islami adalah pernikahan yang tidak didahului dengan pacaran dan sesuai dengan norma – norma dalam Islam. Sedangkan pernikahan Syar’i adalah satu tingkat lebih tinggi dari hanya sekedar menikah secara Islami. Yang ketiga, pernikahan Manhaji adalah pernikahan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan segenap potensi dakwah dari pasangan al – akh dan al- ukh yang menikah tersbut.
Pernikahan manhaji, yang  bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua
ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.
Persepsi bahwa pernikahan akan menghambat aktifitas da’wah merupakan cara berfikir yang kurang pas. Seolah ada pertentangan antara produktivitas dakwah dengan pernikahan. Sepertinya, kalau sudah menikah maka kita tidak bisa meneladani pemuda-pemuda seperti Usamah, Mush’ab ataupun Ali Bin Abi Thalib. Sepertinya sesudah menikah, tidak termungkinkan untuk menjadi aktivis dengan kemuliaan sebagaimana ketika belum menikah. Seolah-olah, puncak prestasi dakwah selalu (hanya bisa) kita raih sebelum menikah. Sepertinya cara berfikir ini bermula dari persepsi menikah dengan seorang ikhwan/akhwat yang sholih/sholihah adalah buah dari dakwah. Pernikahan ini dipersepsikan sebagai terminal perhentian, tempat memetik manfaat. Pernikahan tidak dianggap sebagai bagian dari dakwah. Pernikahan tidak dianggap sebagai episode tempat dua orang saling menguatkan untuk lebih berkontribusi dan berprestasi dalam dakwah. Seakan pernikahan adalah episode baru yang menjadi tujuan dalam dakwah selama ini. Sekali berarti sesudah itu mati.
Sebelum menjadi panglima di usia 18 tahun, Usamah bin Zaid telah menikah dengan Fatimah binti Qois di usia 16 tahun. Sebelum menjadi duta ke Madinah, Mush’ab bin Umair telah menikah dengan Hannah binti Jahsy. Dan Ali bin Abi Thalib telah menjadi menantu Rosul. Mereka telah berjibaku memimpin keluarga, sebelum sukses memimpin dakwah. Subhanallah.

PENUTUP
3.1Simpulan
Dalam interaksi berjamaah ikhwan dan akhwat, akan ada efek yang timbul dari hasil interaksi ketika obyek yang satu terlalu sering mempengaruhi yang lain. Salah satu efeknya adalah timbulnya perasaan suka antara al akh dan al ukh dikarenakan seringnya berinteraksi, sehingga masalah kecil ini akan berakibat terhadap tidak kondusifnya dakwah yang kita lakukan. Oleh karena itu yang menjadi sebuah kesimpulan bersama, perlu adanya pembenahan – pembenahan pola interaksi ikhwan dan akhwat agar tetap sesuai dengan ka’idah kesyar’ian dalam jama’ah. Pembenahan pola komunikasi tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Dilakukan sesegera mungkin
2.    Dilakukan secara terbuka
3.    Dilakukan secara dua arah
4.    Pembicaraan adalah hal-hal yang terkait dengan amanah saja

Sedangkan dalam tema makalah selanjutnya, yaitu perspektif menikah dalam jama’ah, maka dapat diambil sebuah kesimpulan, pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Maka pernikahan yang manhaji menjadi sebuah keharusan bagi aktivis dakwah yang betul – betul memahami dakwah secara syumul.

3.2 Saran
Setelah mengetahui aturan – aturann kita dalam jama’ah dakwah ini, terkait pola komunikasi ikhwan akhwat dan menikah dalam perspektif jama’ah, maka sudah seharusnya kita, para aktivis dakwah untuk merealisasikan manhajj yang ada tersebut dalam rangka untuk kemashlahatan dakwah.

*( Disampaikan dalam forum liqo’ bersama

**( Humas KAMMI Unnes

Sumber : http://wp.me/pgrZO-b1

2 pemikiran pada “Pilih Manhaji, Syar’i, atau Islami?

  1. Wah,tulisan yg mencerahkn.
    mgkn bs dtambahkn jenis metode penelitian&sumber pengambilan data. tp nampaknya terbaca penelitian kualitatif dg pndekatan studi kasus, mngambil data scr observasi, pengamatan mendalam. Kayanya lbh bgs dtambahkn daftar pustaka yg melengkapi rujukan teori (dalil2 syar’i, hadits dan sirahnya diambil dr buku apa). *sindrom ngrjain penelitian.com.

    • hehe…haduu..itu thesis jangan dibawa-bawa teh, nguing-nguing @.@.

      saran yang bagus teh..tapi ini bukan ney yang bikin, copas mode on.
      nanti deh ney kembangin lagi.
      Makasi ya teh udah mampir, hehhee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s