Bercampur Tapi Berbeda


oleh: Rachmatullah Oky Raharjo
Sebuah ungkapan menarik dan sekaligus menggelitik pernah saya baca di sebuah
status facebook seorang teman, “Islam tidak perlu dibela, justru dengan memeluk
Islam saya merasa terbela”.

Kalau tidak kita tanggapi secara emosional, kalimat di atas sedikit banyak ada
benarnya. Islam, sebagai ajaran sangatlah sempurna. Selain jaminan langsung dari
Allah dalam dua ayat terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah pada haji wada’,
para sarjana modern dari berbagai disiplin ilmu-pun mengakui bahwa sistem
sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan yang dibangun oleh Muhammad adalah
sebuah sistem yang brillian. Meskipun tidak semua kekaguman itu kemudian membuat
para ilmuan modern itu memeluk Islam. Namun, cukuplah pengakuan mereka itu
sebagai bukti bahwa agama ini memang sudah sempurna.

Salah satu kesempurnaan Islam adalah komitmen pembelaannya kepada siapa-pun yang
tulus melaksanakan tata aturan agama dalam kehidupannya. Agama ini mengajarkan
syukur bagi yang kaya, dan sabar bagi si miskin. Agama inilah yang mengajarkan
bagaimana menghormati tamu, tapi juga menegaskan bahwa tamu harus tau diri.
Agama ini tawazzun (keseimbangan), menganjurkan hidup bahagia dunia dan akhirat.
Agama ini melarang umatnya mencari musuh, tapi juga melarang tinggal diam jika
musuh itu datang mengganggu. Maka ketika kita sudah ber-Islam dengan kaffah,
seharusnya kepercayaan diri yang muncul. Kita percaya diri untuk menampakkan
identitas keislaman kita, berani bersaing di segala bidang dengan komunitas
masyarakat lain. Selayaknya kita percaya diri untuk mandiri, sekaligus percaya
diri membangun jaringan kerja sama dengan banyak pihak.

Bukan sebaliknya, kita merasa takut, minder, inferior, atau menghindar dari
kehidupan masyarakat yang plural. Sikap yang demikian, justru akan membuat kita
terasing, jumud (kolot), dan bahkan mundur. Biasanya yang mengikuti sikap-sikap
di atas adalah penganut fanatisme buta, merasa benar sendiri, dan bahkan
destruktif. Golongan ini biasanya merusak, menghancurkan, menghilangkan
simbol-simbol yang dianggap musuh, bukan sekadar karena kebencian, tapi tidak
bisa bersaing dengan mereka. Ibarat cerita seekor serigala yang bercerita kepada
segenap penghuni belantara kalau buah apel itu asam dan pahit, tidak enak
dimakan, dan menyakitkan. Padahal kenyataanya tidaklah demikian. Hal itu terjadi
karena serigala tidak pernah mampu memanjat pohon apel untuk memetiknya. Dia
hanya iri ketika mendengar kera memuji-muji kenikmatan buah apel. Sedangkan
serigala hanya mampu jadi pendengar saja.

Muhammad Abduh, tokoh pergerakan Islam asal Mesir yang lama hidup, belajar,
berbaur, dan bertukar pikiran dengan para ilmuwan dan masyarakat di Perancis
mungkin bisa kita jadikan contoh nyata tentang bagaimana seharusnya kita percaya
diri dengan keislaman kita. Ia adalah seorang pemikir, aktivis pergerakan,
sekaligus pembaharu. Buah pikirannya bukan hanya mempengaruhi perjuangan
pembebasan di Mesir, bahkan lintas negara, termasuk pergerakan Islam di
Indonesia. Komitmennya untuk kebangkitan Islam tidak pernah luntur. Semangatnya
untuk membawa kemajuan Islam tidak pernah pudar. Namun, itu semua sama sekali
tidak menghalangi sosialisasi dia dengan orang lain yang berbeda pemikiran, beda
negara, bahkan berbeda keyakinan. Pergaulannya dengan banyak orang, sama sekali
tidak mengurangi kebanggannya sebagai seorang muslim. Ia tidak juga gagap
-shock cultural- sehingga latah ikut-ikutan budaya masyarakat Perancis yang
liberal. Ia tidak lantas “mengasingkan diri” dari pergaulan, tidak pula takut
atau rendah diri sebagai seorang muslim yang juga kebetulan dari negeri jajahan
Perancis.

Pada suatu jamuan makan malam, Muhammad Abduh nampak akrab dengan rekan-rekannya
di rumah makan Perancis. Sama sekali tidak nampak kegelisahan dari wajahnya
tanda tidak percaya diri. Bahkan ketika rekan-rekannya mentertawakan cara
makannya yang menggunakan tangan, sementara rekan-rekannya yang lain menggunakan
pisau dan garpu. Abduh beralasan, demikianlah yang diajarkan oleh Rasulullah.
Terang saja alasan ini menjadi bahan tertawaan lagi bagi rekan-rekannya itu.

“Jorok sekali nabimu itu, kenapa dia mengajarkan umatnya makan dengan tangan
yang kotor.

Bukankah lebih bersih kalau kau makan sebagaimana kami, dengan sendok, pisau dan
garpu yang bersih?”

Mendengar itu, Abduh sama sekali tidak marah atau malu. Dengan senyum dia
menjawab, “Mengenai hal itu, sesungguhnya aku makan dengan tanganku sendiri.
Tentu aku sendiri yang paling tahu kebersihannya. Yang jelas, tangan ini hanya
aku gunakan untuk menyuapi mulutku sendiri. Sehingga aku sendiri tahu kebersihan
makanan yang masuk kedalamnya. Sedangkan peralatan makan yang kalian gunakan,
entah berapa kali mereka menyuapi mulut orang lain yang kita tidak pernah tahu
kebersihannya dari kuman penyakit bukan?” Sebuah jawaban yang telak, rasional,
dan tidak mosional. Abduh tidak membawa pedang lalu berteriak-teriak membalas
“penghinaan” rekan-rekannya itu terhadap cara makannya. Ia menjawabnya dengan
jawaban logis. Abduh paham bahwa rekanya berbeda keyakinan dengan dia. Adalah
percuma menjelaskan keyakinannya akan sunnah cara makan Rasulullah ini dengan
dalil Alquran ataupun Hadis. Abduh juga mengerti, bahwa Eropa baru saja
mengalami euforia renaisance liberalisme berfikir setelah berabad-abad
terkungkung dalam doktrin gereja. Jawaban yang dia pilih adalah jawaban logis,
yang terbukti membungkam kesombongan rekan-rekan Eropanya itu.

Pada kesempatan lain. Salah seorang rekannya bertanya kepadanya tentang apa
alasan Islam melarang umatnya mengkonsumsi daging babi. “Karena Babi itu
binatang kotor, makan makanan yang kotor, dan hidup di lingkungan yang kotor
pula. Selain itu ada penyakit dalam usus babi yang akan membahayakan manusia
jika mengkonsumsinya,” jawab Abduh. “Nah, kau lihat sendiri di peternakanku ini
babi-babi ini dipelahara di kandang yang bersih. Mereka makan makanan yang
bersih dan minum air yang bersih pula. Setiap bulan, mereka di suntik anti
cacing, sehingga tidak membahayakan manusia. Lalu apa Tuhanmu mengijinkan kamu
untuk makan babi dari peternakan ini?” ujar temannya. Abduh tidak serta merta
menjawab pertanyaan ini. Dia meminta rekannya untuk menyediakan dua ekor ayam
jantan, dan satu ekor ayam betina, serta dua ekor babi jantan dan seekor babi
betina. Dengan penuh keheranan, rekan abduh menyanggupi untuk menyediakan
permintaannya. Kemudian Abduh meminta agar ayam betina itu dilepas, kemudian
diikuti seekor ayam jantan. Tidak lama kemudian, nampak sang ayam jantan
bernafsu untuk “mengawini” ayam betina itu. Saat itulah Abduh meminta melepas
ayam Jantan yang satu lagi. Begitu melihat kehadiran “saingannya” itu, ayam
jantan pertama nampak marah. Bulu lehernya berdiri tanda dia merasa terganggu.
Lalu bertarunglah kedua ayam itu hingga mati salah satunya.

Hal yang sama kemudian Abduh minta babi betina dan dua ekor babi jantan dengan
“skenario” yang sama persis dengan ayam sebelumnya. Hasilnya sungguh membuat
orang Perancis itu terkejut. Nampak ketika babi jantan yang kedua dilepaskan,
maka babi jantan yang pertama nampak tidak meras terganggu, bahkan kemudian dia
“mempersilahkan” bahkan membantu babi jantan kedua ini untuk ikut serta
“mengawini” babi betinanya. “Nah, itulah kenapa kami dilarang makan babi. Karena
sifat-sifat babi yang buruk. Tuhan kami ingin memelihara kami dari sifat buruk
itu, sehingga kami masih punya kehormatan untuk melindungi istri-istri kami dari
gangguan orang lain sebagaimana ayam tadi. Kami tidak diajarkan kehilangan
cemburu, sebagaimana babi tadi, lalu mempersilahkan orang lain menyentuh, bahkan
mencium istri kami didepan mata kami sebagaimana kalian melakukanya.”

Subhanallah. Betapa indah kalau dakwah dimulai dengan hikmah dan bukan amarah.
Alangkah teduhnya dakwah jika diawali dengan ajakan dan bukan ejekan. Betapa
sejuknya dakwah jika diwujudkan dengan merangkul dan bukan memukul. Sungguh,
kalau demikian yang terjadi kita akan merasakan betapa Islam telah membela,
mengangkat derajat, dan membuat kita bangga. Betapa sempurna agama ini dan
betapa sempurna pula Allah menjaganya.

Maka tugas kita adalah menebarkan keagungan itu sebagai rahmat bagi seluruh alam
dan bukan mengecilkanya yang justru menjauhkan Islam dari umat-Nya. Bercampur,
bergaul, bermasyarakat, bukan berarti harus ikut-ikutan. Kita tetap punya
kebanggan dengan Islam kita, dan itu adalah baju terindah yang kita kenakan.
Bercampur tapi berbeda. Ngeli nangin ora keli kata sunan kalijaga, mengikuti
arus tapi tidak sampai hanyut. Wallahu a’lam.***

Di copy dari milis fui8@yahoogroups.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s