Katarak


Beberapa hari yang lalu saya silaturahim ke rumah seorang ibu yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri, sudah lama saya tidak berkunjung kesana, biasanya setiap bulan saya menyempatkan untuk mampir, tapi sudah 4 bulan ini tidak. Terkejut saya ketika beliau mengatakan, “Nesyia ada apa? kok lama ngga main kesini? Ibu abis oprasi loh.”

“Ia ibu maaf ya, kemarenan ngurusin skripsi, alhamdulillah sekarang sudah beres, ibu oprasi apa?”, jawab saya penuh penasaran, perasaan terakhir ketemu masih baik-baik aja, tiba-tiba oprasi, lebih anehnya lagi, abis oprasi kok ngga ada tanda-tandanya.

Dengan antusias Ibu itu cerita, mulai dari keluhannya, berobat kesana kemari, ngurus kartu askes, sampai oprasi, dan pasca oprasi. Saya baru tau kalau katarak itu seperti uban, jadi setiap orang memiliki kemungkinan terkena katarak. Dulu saya pikir katarak itu hanya penyakit yang diderita oleh orang tua, pokoknya saya ngga care deh sama penyakit ini asal muasalnya, gejalanya, pengobatannya, dll. Setelah diberi tahu seperti itu saya jadi sadar, orang tua harus di cek nih. Berdasarkan brosur mengenai katarak dari RS tempat ibu tersebut dioprasi ternyata katarak rata-rata diderita pada usia sekitar 55 tahun.

Kata dokter Ibu tersebut satu-satunya jalan untuk mengobati katarak adalah oprasi, biayanya juga lumayan, kalau saya tidak salah ingat 9 juta rupiah. Wah wah..kalau begitu prospek jadi dokter mata asik ya, apalagi dengan alasan bahawa katarak itu seperti uban, berarti semua manusia dioprasi katarak.

Apasih katarak itu? apa penyebabnya? bagaimana cara mencegahnya? dan bagaimana gejalanya? Oke deh, cekidot aja.

Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/gangguan penglihatan. Seseorang yang mengalami katarak penglihatannya menjadi berkabut/buram.

Lensa mata merupakan bagian jernih dari mata yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan gambar. Retina merupakan jaringan yang berada di bagian belakang mata, bersifat sensitif

terhadap cahaya. Pada keadaan normal, cahaya atau gambar yang masuk akan diterima oleh

lensa mata, kemudian akan diteruskan ke retina, selanjutnya rangsangan cahaya atau gambar

tadi akan diubah menjadi sinyal / impuls yang akan diteruskan ke otak melalui saraf penglihatan

dan akhirnya akan diterjemahkan sehingga dapat dipahami.

Penyebab dan proses terjadinya katarak

Sebagian besar katarak terjadi akibat proses penuaan, tetapi katarak juga dapat disebabkan

oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:

1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.

2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.

3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.

4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.

5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik.

Katarak pada usia lanjut terjadi melalui dua proses, yaitu

1. Penumpukan protein di lensa mata

Komposisi terbanyak pada lensa mata adalah air dan protein. Penumpukan protein pada lensa mata dapat  menyebabkan kekeruhan pada lensa mata dan mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke retina. Proses penumpukan protein ini berlangsung secara bertahap, sehingga pada tahap awal seseorang tidak merasakan keluhan/gangguan penglihatan. Pada proses selanjutnya penumpukan protein ini akan semakin meluas  sehingga gangguan penglihatan akan semakin meluas dan bisa sampai pada kebutaan. Proses ini merupakan penyebab tersering yang menyebabkan katarak yang terjadi pada usia lanjut.

2. Perubahan warna pada lensa mata yang terjadi perlahan-lahan seiring dengan pertambahan usia.

Pada keadaan normal lensa mata bersifat bening. Seiring dengan pertambahan usia, lensa mata dapat  mengalami perubahan warna menjadi kuning keruh atau coklat keruh. Proses ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan (pandangan buram/kabur) pada seseorang, tetapi tidak menghambat penghantaran cahaya ke retina.

Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan katarak:

– Penderita diabetes melitus / kencing manis.

– Penggunaan beberapa jenis obat dalam jangka panjang.

– Kebiasaan buruk, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol.

– Kurang asupan antioksidan, seperti vitamin A, C, dan E.

– Paparan / radiasi sinar ultraviolet.

Mata katarak

Penggunaan jangka panjang obat penurun kolesterol, seperti obat-obat golongan statin dan squalene synthase inhibitor dapat meningkatkan risiko terjadinya kekeruhan lensa mata (katarak). Squalene merupakanenzim yang terdapat dalam tubuh dan berperan dalam metabolisme kolesterol. Inhibisi atau penghambatan enzim squalene synthase akibat penggunaan obat penurun kolesterol dapat memicu terjadinya katarak.

Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan penambahan asupan squalene untuk mencegah terjadinya katarak pada penggunaan jangka panjang obat penurun kolesterol Squalene dapat ditemukan pada makanan yang bersumber dari hewani dan nabati, seperti: ekstrak hati ikan ”hiu botol” (Centrophorus atromarginatus), minyak zaitun, minyak kelapa sawit, minyak biji gandum, minyak amaranth dan minyak beras. Kadar squalene yang terbanyak terdapat di dalam ekstrak hati ikan ”hiu botol”.

Gejala katarak

Keluhan atau gejala katarak disebabkan oleh proses kekeruhan yang terjadi pada lensa mata.

Proses ini tidak terjadi dalam waktu singkat, sehingga gejalanya tidak muncul secara mendadak. Katarak terdiri dari 4 stadium, yaitu : stadium awal (insipien), stadium imatur, stadium matur, dan stadium hipermatur . Pada stadium awal (katarak insipien) kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat ini seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan atau gangguan pada penglihatannya, sehingga cenderung diabaikan. Pada stadium selanjutnya proses kekeruhan lensa terus berlangsung dan bertambah, sehingga keluhan yang sering disampaikan oleh penderita katarak pada saat ini adalah kesulitan saat membaca, penglihatan menjadi kabur, dan kesulitan melakukan aktifitas sehari-hari. Selain keluhan tesebut ada beberapa gejala yang dialami oleh penderita katarak, seperti :

– Penglihatan berkabut atau justru terlalu silau saat melihat cahaya.

– Warna terlihat pudar.

– Sulit melihat saat malam hari.

– Penglihatan ganda saat melihat satu benda dengan satu mata. Gejala ini terjadi saat

katarak bertambah luas.

pengelihatan katarak

pengelihatan katarak2

Penatalaksanaan katarak

Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan dapat dibantu dengan menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau kacamata yang dapat meredamkan cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan operasi. Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki lensa mata, tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi. Operasi katarak perlu dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan tajam. Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk dilakukan jika katarak terjadi berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis, glaukoma, dan retinopati diabetikum. Selain itu jika hasil yang didapat setelah operasi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan risiko operasi yang mungkin terjadi.

Sumber: http://www.kosmojaya.com/penyakit-lain/79-katarak.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s