Ketika Komitmen Diuji


Pernah ga sobat komitmen kepada diri sendiri atau orang lain, bahwa kita akan…blablabla.. atau kita tidak akan…blablabla…

Saya rasa hampir semua orang pernah mengucapkan komitmen, yang paling pasti ketika kita beribadah, pastinya komitmen kita selalu di refresh, apa itu? kalau di muslim kalimat tauhid “laaila hailallah wa asyhaduanna mumammadarrasulullah”. Saat menikah juga ada komitmen yang diucapkan. Banyak momen-momen tertentu yang membuat kita menjadi komitmen untuk melakukan lebih baik.

Saat kita komitmen saat itulah paket ujian akan datang. Kalau kata Allah, apakah orang yang mengaku beriman akan dibiarkan begitu saja? mereka akan diuji. Apa yang diuji, ya keimanannya lah. Kenapa diuji? supaya ketahuan mana yang komitmennya 100% atau yang 0%, saya tidak menyebutkan 50%, karena komitmen itu cuman ada 0% atau 100%.

Oleh sebab itu, orang-orang kafir Quraisy mereka mengakui Allah itu ada, tapi mereka tidak mau membuat komitmen. Karena apa? karena jika mereka bersyahadat, artinya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitas mereka diatur oleh syariat Islam, mereka tidak siap untuk itu. Jadi tidak ada tuh istilah setengah-setengah dalam komitmen.

Saat komitmen diuji, satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah hadapi saja. Bukankah kalau mau lulus ujian kita harus ikut ujiannya kan? ya sudah hadapi saja ujian itu. Ujian itu tidak harus selalu bentuk penderitaan, bisa juga kesenangan yang bisa melalaikan (jadi boomerang deh), atau juga bisa proses menuju yang kita inginkan tidak seindah atau seperti yang kita bayangkan.

Maha Adilnya Allah, setelah kita lulus ujian Allah akan memberikan apa yang kita inginkan disaat yang tepat, dengan cara yang tidak di duga-duga, dan semua terasa indah. Percaya saja, Allah tidak tidur dan tidak menutup mata, Allah tau siapa yang memiliki komitmen kuat dan yang lemah.

Komitmen itu tidak sekedar kata-kata, tapi butuh keyakinan dan persistance action. Komitmen tanpa keyakinan, terpaksa namanya, komitmen tanpa action omdo namanya.

Ketika komitmen sesorang melemah dia akan mulai mencari-cari alasan atau mengkambinghitamkan yang lain (bisa orang, kondisi, apapun deh disalahin kecuali dirinya), membesar-besarkan yang kecil atau ngga penting. Tapi orang yang komitmen tingkat tinggi, dia juga akan mencari-cari alasan ketika komitmenya sedang diuji, tapi alasan dia BERBEDA.

Bagini contoh realnya:

‘akh, katanya antum kemarin ngga datang

saat rapat abis shubuh?

katanya cuma kita yg ngga ada wakilnya?’

‘afwan akh, kemarin itu hujan deras abis shubuh.

makanya saya ngga bisa berangkat.’

‘hujan deras? bukannya antum punya jas hujan?

antum pernah ngga lihat saya ngga datang karena hujan.

bukankah rumah saya lebih jauh dari antum?’

tak ada tanggapan.

Hujan. akankah jadi penghalang…?

Masih banyak alasan-alasan lain yang sebenarnya kecil jadi dibesar-besarkan, yang sebenarnya kurang penting jadi terliaht penting. Astaghfirullah (v.v)’.

Bandingkan dengan:

Setiap menjelang perang shahabat yg masih muda, memakai sepatu berhak tinggi, mereka ingin tampak dewasa dan diikutkan dalam jihad, shahabat yg tua, mereka tunjukkan ahli memanahnya, mereka sampaikan ingin beroleh syahid di jalan-Nya. Mereka miskin, tak bisa berinfaq harta, apa lagi memerdekakan budak. Tetapi mereka mencari2 alasan agar bisa berjihad, mereka mencari2 alasan agar menjadi yg terbaik di hadapan Allah. Dan itulah bedanya mencari alasan kita dan mereka.

Mengapa bisa melemah komitmennya? Karena semangat ruhianya menurun, sepengalaman saya, semangat akan timbul jika kondisi ruhiyah/jiwa kita benar-benar dalam kondisi yang bagus. Semangat yang melahirkan pahala, semangat yang berasal dari Allah, semangat yang memiliki pondasi yang kuat, semangat yang dimanage dengan baik, semangat yang menular ke orang disekitar, dan paling penting semangat yang produktif.

Samangat timbul karena keyakinan sangat kuat, yang kemudian akan melahirkan komitmen yang kuat. Keyakinan terbaik adalah percaya kepada Allah. Kalau saya selalu mengatakan “Bersama Allah Saya Pasti Bisa”, ya sambil action dan terus bebenah diri.

Keyakinan seperti itu timbul ketika kita dekat dengan Allah. Karena kita sudah pasti tau Allah itu Maha segala-galanya.

Lalu bagaimana supaya dekat dengan Allah? mudah saja. Bagaimana agar kita bisa dekat dengan sesorang yang kita sayangi? ya itulah yang seharusnya kita lakukan. Mudah untuk diucapkan sulit untuk pelaksanaan.

Yuukk kita sama-sama belajar, beramal, berbagi, dan bertumbuh :). Sabar dan ikhlas dalam prosesnya yang panjang.

Wallahualam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s